Pergeseran Gaya Hidup Minum Kopi

Penggemar kopi sekarang lebih mencari gerai kopi sederhana dengan ruang terbuka dan harga realistis.
Gambar oleh Pexels dari Pixabay

Bisnis kopi di hilir sejak pandemi Covid-19 mengalami banyak pergeseran akibat perubahan prilaku konsumen. Saat ini terbentuk trend baru yang tak lagi mengandalkan kafe-kafe nyaman di mal.

Penggemar kopi sekarang lebih mencari gerai kopi sederhana dengan ruang terbuka dan harga realistis.

ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia Moelyono Soesilo mengatakan, konsumen sekarang cenderung mencari ruang terbuka, meskipun itu berarti harus gerimis bubar.

“Sekarang ini tak perlu lagi tempat mewah, cukup gerai dengan kontainer dan tempat duduk di ruang terbuka. Meski sederhana, namun standar kebersihan dan pembuatan kopi tetap jadi tuntutan konsumen. Generasi milenial cenderung memahami bagaimana kopi yang bagus,” ujarnya dalam acara Indonesia Industry Outlook 2021 hari kedua yang diadakan secara virtual, beberapa waktu lalu.

Perubahan tersebut juga berakibat pada harga jual. Pandemi, tutur Moelyono, mengakibatkan daya beli menurun. Itu sebabnya, banyak kafe-kafe sekarang yang menyediakan kopi literan.

“Harga kopi menjadi lebih realistis. Untuk kopi hitam saya perkirakan akan bertahan di kisaran harga Rp10 ribu hingga Rp15 ribu. Untuk olahan varian kopi dengan milk misalnya, harga jual realistisnya di kisaran Rp20 ribu,” ujarnya seperti dilansir arahdestinasi.com.

Menurut Moelyono, untuk kembali pulih seperti semula dibutuhkan waktu cukup lama. Dia perkirakan baru akan pulih empat hingga lima tahun mendatang. Begitu pun dengan pergeseran gaya hidup minum kopi. Itu sebabnya, dia mendorong para pebisnis untuk mulai menyesuaikan dengan pergeseran trend.

“Vaksin tidak akan menyelesaikan semuanya. kondisi ekonomi belum sempurna. Untuk konsumsi, konsumen akan lebih berhati-hati. Pengeluaran untuk nongkrong juga terpengaruh,” katanya.

Sejak pandemi, ujar Moelyono, bukan hanya bisnis kopi di hilir yang terpengaruh, tetapi juga dibagian hulu. Harga kopi arabica turun drastis hingga 50%, seiring dengan merosotnya permintaan. Sementara itu harga dan permintaan kopi robusta jauh lebih stabil.

“Kondisi itu berdampak pada petani kopi arabica. Banyak pengiriman yang minta ditunda dua hingga 3 bulan. Bahkan sampai ada pembatalan kontrak. Namun belakangan sudah mulai ada tanda-tanda peningkatan harga dan permintaan,” tuturnya.

Share:

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn