Pasola, Atraksi Adat yang Mendebarkan

Pasola, salah satu tradisi di Pulau Sumba. Perang persahabatan penuh sportivitas.

Begitu mendengar kata Pulau Sumba, apa yang terbayang? Sebagian orang menjawab pantai, sebagian lagi kampung adat, dan sebagian lagi menyebut Pasola.

Di masa sebelum pandemi COVID-19, Pasola menjadi atraksi adat tahunan yang bukan hanya ditunggu masyarat Sumba, khususnya Sumba Barat Daya dan Sumba Barat, tetapi juga wisatawan domestik dan mancanegara.

Acara yang biasanya diselenggarakan mulai Februari hingga Maret. Pada saat pelaksanaan, masyarakat berbondong-bondong datang. Dapur-dapur rumah adat tetiba jadi meriah, penuh asap masakan.

Pasola memang menjadi salah satu acara adat yang ditunggu. Kuda-kuda Sumba yang terkenal berhias gagah dan meriah. Begitu pula penunggangnya, menggunakan hiasan ada berteman batang kayu panjang yang berfungsi sebagai senjata.

Rato (pemimpin adat) akan memberi tanda dimulainya Pasola. Kuda dan penunggangnya maju saling menggertak, menggoda, berkejaran, dan akhirnya berhadapan melepas senjata. Ada yang terkena lemparan kayu, ada yang menghindar. Ada yang berhasil bertahan di atas kuda, ada pula yang jatuh. Meski demikian, tak ada dendam. Jika ingin membalas, bisa dilakukan tahun depan di acara yang sama.

Pasola digelar setelah perayaan Nyale atau penangkapan cacing laut. Ini uniknya, kapan cacing-cacing laut keluar dan kapan Pasola diselenggarakan, semuanya ditentukan Rato atau pemimpin adat yang melakukan komunikasi dan mendapat petunjuk dari leluhur.

Legenda Nyale & Pasola
Di balik kemeriahan Pasola dan Nyale, sesungguhnya tersimpan kisah tentang tragedi cinta dan sportivitas yang melatari kegagahan kaum pria di atas kuda. Konon, di Kampung Waiwuang hidup salah satu pimpinan bernama Umbu Dulla. Dia memiliki istri yang terkenal sangat cantik bernama Rabu Kaba.

Foto: Lintang Rowe

Suatu hari, Umbu Dulla bersama dua pimpinan lainnya mengumumkan bahwa mereka akan pergi melaut. Hari demi hari berlalu, ketiga pimpinan itu tak juga kembali. Warga mulai mencari, tapi tak menemukan jejak apa pun. Akhirnya ketiganya dinyatakan meninggal dunia.

Lama berlalu, Rabu Kaba, janda Umbu Dulla bertemu dengan Teda Gaiparona dari Kampung Kodi. Keduanya jatuh cinta, meski keluarga kedua belah pihak tidak menyetujui. Akhirnya mereka kawin lari. Rabu Koba dibawa tinggal di Kampung Kodi.

Siapa nyana, suaminya Umbu Dulla bersama dua pimpinan lainnya tiba-tiba muncul kembali di Kampung Waiwuang. Rabu Kaba pun diminta kembali. Namun, dia menolak, dan meminta Teda Gaiparona untuk mengganti belis (mahar nikah) yang sudah diterima dari keluarga Umbu Dulla.

Permintaan itu disanggupi dan kemudian dilakukan pesta pernikahan resmi. Dalam pesta itulah lahir Pasola. Saat itu, Umbu Dulla berpesan agar diadakan penentuan pengambilan nyale dan kemudian dilanjutkan dengan Pasola, perang persahabatan dengan harapan tak ada lagi dendam yang tersisa. ***

Share:

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn