Jalan-Jalan di Tiga Kota Laos

Luang Prabang, kota di Laos yang sungguh layak dijelajahi.
Icon Laos, monumen Patuxai / Foto: SaigonJoe from Pixabay

Laos, punya daya tarik besar bagi wisatawan. Negara itu kaya sejarah, bangunan-bangunan tua yang masih terawat, kuil-kuil Budha, dan sisa-sisa kerajaan.

Laos yang merdeka tahun 1949 dengan nama Kerajaan Laos dan kemudian berubah nama menjadi Republik Demokratik Rakyat Laos saat komunis menggulingkan pada 1975, juga memiliki kota tua Luang Prabang yang sejak 1995 menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO.

Di kota tua itu juga dikenal ritual Tat Bat yang bukan hanya menggoda wisatawan, tetapi juga fotografer amatir hingga profesional. Tidak mengherankan jika banyak wisatawan mulai mengincar Laos.

Dari Jakarta (sebelum pandemi COVID-19), tiket langsung ke Vientiane (ibu kota negara) atau langsung ke Luang prabang, cukup menguras kantong. Jadilah banyak yang mengambil jalur alternatif dari Bangkok. Prinsipnya, sekali perjalanan dua negara terlampaui..

Transportasi Bangkok-Vientiane
Ada tiga alternatif moda transportasi dari Bangkok menuju Laos (Vientiane). Kereta api, bus, dan pesawat terbang. Ketiganya punya plus minus tersendiri. Kereta api dan bus akan memberi pengalaman tak terlupakan perjalanan darat lintas perbatasan. Sedangkan pesawat terbang jelas lebih menghemat waktu.

Sebelum pandemi, berburu tiket pesawat murah Bangkok-Vientiane bisa jadi keasyikan tersendiri. Saya sendiri batal naik sleeper train dari Bangkok ke Nong Khai (kota terakhir di Thailand, berbatasan dengan Laos) karena beruntung mendapat tiket pesawat budget dengan harga murah, hanya sedikit lebih mahal dari tiket sleeper train. Pertimbangannya, pesawat lebih hemat waktu, meski harus merelakan kehilangan pengalaman jalan darat lintas perbatasan negara.

Foto: explore-laos.com

Butuh waktu sekitar 1 jam penerbangan Bangkok-Vientiane. Sedangkan bus dan kereta api sekitar 10 – 12 jam atau bisa lebih (tergantung jenis kereta yang dipilih). Di mana beli tiket kereta dan bus? Dalam kondisi normal saya lebih senang beli secara online. Ada banyak situs yang menjual tiket secara online sekaligus memberi petunjuk transportasi apa yang harus digunakan untuk mencapai, airport, stasiun mau pun terminal bus. Satu di antaranya yang kerap saya gunakan adalah rome2rio.com.

Foto: 12go.asia

Jika naik kereta mau pun bus, maka pasti akan berhenti di Nong Khai untuk membereskan urusan imigrasi. Dari situ perjalanan bisa dilanjutkan ke Vientiane (bus) atau bagi yang naik kereta api bisa membeli tiket terusan (kereta dan kendaraan) yang akan mengantar sampai pusat kota Vientiane.

Kota-kota di Laos menarik untuk dikunjungi. Sebagian mirip kota-kota kecil di Pulau Jawa. Tapi ada tiga utama yang paling sering diincar, yakni Vientiane (Ibu Kota Laos), Vang Vieng (surga backpackers) dan Luang Prabang.

Berikut contoh aktivitas yang bisa dilakukan di tiga kota tersebut, dengan asumsi perjalanan Bangkok-Laos menggunakan pesawat.

HARI PERTAMA
BANGKOK-VIENTIANE

Perjalanan dari Bangkok ke Vientiane sekitar satu jam dengan pesawat. Kami (saya dan dua teman) tiba sekitar pukul 14.30. Langsung cari angkutan umum di bandara menuju kawasan hotel yang sudah dipesan di Airbnb. Kebetulan lokasi hotel terletak di tepi jalan raya, masuk dalam kawasan kota tua dengan bangunan-bangunan mempesona dan memang sengaja mencari yang dekat dengan aliran Sungai Mekong.

Kota tua Vientiane / Foto: Lintang

Hotelnya bangunan tua. Dari depan terlihat cukup hangat, namun di bagian dalam ternyata agak suram. Kami mendapat kamar luas di lantai dua. Cukup bersih, murah Rp500 ribu semalam dengan tiga tempat tidur dan air panas untuk mandi.

Tapi karena bangunan tua dan di dalamnya agak suram, setiap mau naik tangga, perasaan saya sih agak spooky. Tapi karena bertiga ya jadi saling menguatkan.

Scandinavian Bakery
Hari pertama di Vientiane, jadwalnya singkat saja. Maklum, hari sudah merambat sore. Berbekal hasil browsing dan tanya kiri-kanan, kami memutuskan mengunjungi Scandinavian Bakery. Tempatnya tidak jauh dari hotel sekitar 10 menit berjalan kaki.

Foto: Lintang Rowe

Duduk sembari menikmati secangkir kopi dan tiga jenis bakery (saling mencicipi) benar-benar menyenangkan. Sembari memandangi bangunan-bangunan tua dan lalu-lalang orang serta numpang sambungan Wifi.

Rasa rotinya sih menurut saya, lumayan. Tapi keesokan harinya kami menemukan kios penjual roti semacam sandwich panjang khas Laos di samping hotel yang rasanya enak, dua jempol dan masih terbayang sampai sekarang.

Night Market & Sungai Mekong
Dari Scaninavian Bakery saatnya jalan kaki ke night market yang terletak di tepi Sungai Mekong. Lumayan ramai, mirip pasar malam. Ada penjual makanan, pakaian, dsb. Setelah berjalan beberapa saat, kami memutuskan duduk di tangga memandangi aliran Sungai Mekong.

Senja di Sungai Mekong – Vientiane /Foto: Lintang

Banyak yang melakukan kegiatan serupa. Ada keluarga, dan lebih banyak lagi pasangan kekasih. Ngobrol ngalor-ngidul sembari menunggu matahari terbenam. Begitu gelap mulai merambat, kami berjalan kaki lagi menyusuri jalanan di dekat Sungai Mekong yang dipenuhi kafe, bar, restoran, dan kios-kios yang menjual jajanan. Ini juga menyenangkan, menikmati suasana malam di Vientiane, sebelum kembali ke hotel.

HARI KEDUA
(Patuxai-That Luang-Budha Park)

Tidak banyak waktu tersisa di Vientiane. Karena itu, kami memutuskan ikut city tour setengah hari yang disediakan pihak hotel. Harganya pun menurut kami terjangkau dan yang jelas lebih praktis.

Ada tiga objek wisata utama yang kami kunjungi di Vientiane, yakni Patuxai, That Luang, dan Budha Park. Sebagai tambahan informasi hotel-hotel kecil dan besar di Laos menyediakan informasi tentang paket city tour dan moda transportasi travel yang menghubungkan antarkota.

Patuxai / Foto: Lintang

Patuxai
Ini objek wisata yang memang jadi incaran wisatawan untuk berfoto ria, karena menjadi ikon Vientiane, bahkan Laos. Bentuknya taman luas dengan sentral utama bangunan mirip pintu gerbang dengan arsitektur mirip Arc de Triomphe di Prancis. Patuxai dibangun 1957 untuk mengenang para tentara korban peperangan. Di sekitar lokasi pintu gerbang ada museum dan istana presiden

That Luang
Berikutnya That Luang, pagoda emas yang juga menjadi ikon Vientiane. That Luang benar-benar didominasi warna emas. Kami mengelilingi areal pagoda yang luas, berhenti di tempat-tempat menarik, sampai kaki rasanya pegal. Sejarah mencatat, That Luang pertama kali dibangun pada abad ketiga, tapi beberapa kali mengalami renovasi, terakhir karena perang.

Budha Park
Dari That Luang perjalanan berlanjut ke Budha Park. Lokasinya agak ke luar kota, sekitar 25 km dari pusat kota Vientiane. Sesuai namanya, taman itu penuh dengan patung-patung Budha besar dan kecil. Yang paling menonjol adalah patung besar Budha tidur (Sleeping Budha) yang tingginya sekitar 500 meter dan panjang 200 meter. Cukup menyenangkan berjalan di antara formasi patung-patung Budha yang jumlahnya disebut-sebut mencapai 200-an. Budha Park dibangun sebagai simbol kebersamaan dan kerukunan Hindu dan Budha.

VIENTIANE-VANG VIENG
Tour setengah hari selesai,kami kembali ke hotel bersiap menunggu jemputan travel pukul 15.00. Koper-koper diletakkan di atas kendaraan, dan kami pun siap menempuh perjalanan kurang lebih 3,5 jam. Seperti di Vientiene, di Vang Vieng, kami berencana hanya menginap satu malam.

Vang Vieng dikenal sebagai kotanya backpackers. Ada jalanan utama yang dipenuhi bar, kafe, dan restoran dengan suara musik kencang. Malam itu kami berjalan-jalan dan makan malam di salah satu restoran kawasan tersebut.

HARI KETIGA
(Pasar Tradisional & Blue Lagoon)

Keesokan harinya, kami jalan-jalan di sekitar hotel yang kebetulan dekat dengan pasar kaget tradisional. Penjual makanan bercampur dengan penjual aneka sayur, daging, kain khas Laos yang digelar di pinggir-pinggir jalan.

Di Vang Vieng ini, saya melihat gelaran penjual aneka hewan untuk dimasak selain babi, ayam, dan ikan. Banyak hewan tidak umum seperti burung yang masih lengkap dengan bulu indah berwarna-warni. ada juga tupai, kelalawar, dan berbagai hewan lain.

Sekitar pukul 09.00 kami dijemput mobil sewaan menuju ke Blue Lagoon. Hanya satu objek wisata itu yang sempat kami kunjungi. Padahal banyak wisata adventure lain di Vang Vieng, tapi sayang jaraknya berjauhan. Jadi kami memutuskan ke satu tempat itu saja.

Jalan menuju Blue Lagoon melewati sawah-sawah dan kerbau, khas pedesaan, mirip di Indonesia. Akhirnya kami tiba di Blue Lagoon dan kita bertiga sama-sama melongo. Bukan terpesona, tapi kaget karena kenyataan tak sesuai dengan gambar di internet.

Blue Lagon digambarkan sebagai laguna dengan air biru jernih. Di tempat itu, wisatawan bebas bermain, di antaranya berayun dari tali di pepohonan terjun ke dalam air seperti Tarzan. Tapi yang bikin kaget airnya berwarna coklat, enggak ada biru-birunya. Tempatnya juga dipenuhi wisatawan dari berbagai bangsa yang kepanasan, hingga bersuka-ria bermain air.

Baiklah, kami akhirnya hanya duduk-duduk di salah satu restoran dekat laguna, menyesap minuman dingin dan membeli rumput laut yang harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan di Bangkok.

“Kalau tidak sedang musim hujan, airnya memang biru jernih kok,” kata pemilik penginapan kami di Vang Vieng, ketika kami menceritakan kekecewaan melihat coklatnya Blue Lagoon.

Lewat tengah hari kami kembali ke hotel, beberes dan menunggu travel yang akan menjemput menuju Luang Prabang.

VANG VIENG-LUANG PRABANG
Menjelang sore, travel datang, dan kami pun berangkat ke Luang Prabang. Tas-tas naik ke atap kendaraan dan perjalanan selama hampir 4 jam pun dimulai. Perjalanan cukup menyenangkan, dan kami bersemangat mendatangi kota tua di utara Laos yang sudah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 1995.

Saya ingin mengatakan, Luang Prabang sungguh tidak mengecewakan. Kotanya tenang, agak mirip dengan Indonesia tahun 80-an. Bangunan-bangunan tuanya indah dan terawat, memiliki banyak kuil, night market, dan objek wisata memesona.

Kami tiba saat hari mulai gelap dan langsung menuju penginapan yang juga kami pesan dari Airbnb. Kali ini kami mendapat penginapan yang menyenangkan. Kamarnya bersih dengan kamar mandi dalam, tinggal bersama pemilik rumah yang super-ramah dan dengan senang hati memberikan informasi. Laundry pakaian pun dekat, di satu gang yang sama, tidak jauh dari aliran Sungai Mekong yang terkenal.

Malam itu, kami memutuskan beristirahat, karena besok pagi-pagi sekali sekitar pukul 03.30, sudah harus berjalan kaki menuju tepian jalan raya untuk melihat prosesi Tak Bat yang terkenal itu.

Di Luang Prabang kami menginap empat malam. Beberapa kuil yang terkenal jelas kami datangi, juga objek wisata alam dan desa wisata cantik. Berikut beberapa objek wisata utama di Luang Prabang yang masuk dalam agenda.

HARI KEEMPAT
(Ritual Tak Bat)

Ini hari yang paling ditunggu-tunggu. Kami bangun 03.00 pagi-pagi buta, bersiap-siap menuju jalan utama tempat para biksu melewati jalanan utama sembari membawa wadah untuk menerima derma makanan dari pengunjung.

Foto: Lintang

Ritual ini sudah dilakukan ratusan tahun. Sangat indah dan kaya makna. Di Luang Prabang dan Laos pada umumnya, masyarakatnya banyak menganut aliran Budha Theravada. Aliran ini tidak membolehkan para biksu bertani dan memasak makanan sendiri. Mereka makan dari donasi masyarakat dan dalam satu hari hanya boleh makan satu kali.

Sudah bertahun-tahun ritual Tak Bat menarik minat wisatawan mancanegara. Mereka rela bangun pagi, berjalan kaki atau memesan tuk tuk, kemudian ikut menunggu dalam gelaran tikar di trotoar yang dipinjamkan penjual makanan khusus untuk acara tersebut.

Sebagian wisatawan memilih berdiri dan bersiaga dengan kamera. Bahkan, banyak di antara mereka rela bangun pagi lagi keesokan harinya untuk mendapatkan momen foto yang tepat.

Di mana ritual Tak Bat dilakukan? Jangan ragu bertanya pada masyarakat lokal mau pun petugas di hotel atau penginapan. Mereka pasti akan memberi informasi detail.

Royal Palace
Setelah beristirahat, sekitar pukul 11 kami keluar mencari makan. Kami menemukan warung makan yang menempati halaman depan rumah. Halamannya cukup luas dan lantainya masih berupa tanah padat. Kami langsung tertarik melihat cara memasak yang masih menggunakan kayu bakar.

Foto: Lintang

Setelah berbincang dan bertanya-tanya, kami akhirnya memesan mi khas Laos. Mi dengan kuah segar ini ternyata banyak dijajakan di warung-warung tepi jalan. Jadi kami berpikir, di Indonesia mungkin ini seperti mi ayam dan bakso.

Usai makan, kami menelusuri jalanan menuju kawasan night market di Jalan Sisavangvong. Tujuan utamanya adalah Royal Palace atau istana kerajaan yang kerap disebut juga Haw Kham atau Istana Emas.

Foto: Lintang

Seperti namanya, atap istana ini memang didominasi warna emas. Bangunannya menghadap Mount Phosi. Dibangun pada 1904 dan berfungsi sebagai tempat tinggal Raja Sisavang Vong dan keluarganya.

Di dalam istana ada museum yang bisa dilihat pengunjung. Untuk masuk ke dalam istana, wisatawan diwajibkan memakai pakaian yang sopan, melepas alas kaki, dan meninggalkan tas serta kamera.

Salah satu l dinding mozaik di Wat Xiengthong / Foto: DEZALB from Pixabay

Wat Xiengthong
Kuil Budha yang dibangun pada abad 18 ini sangat memukau dan penuh warna. Yang paling menonjol, interior dan eksteriornya dipenuhi dengan mozaik warna-warni. Sangat cantik. Lokasi Wat Xiengthong tidak jauh dari Royal Palace. Kami mengagumi detail di setiap tiang dan dinding yang ada di kuil tersebut.

Wat Mai Suwannapuhumaham
Ini kuil yang indah dan penuh warna. Lokasi Wat Mai Suwannapuhumaham tidak jauh dari Royal Palace. Kami mengagumi detail ukiran dan dekorasi di setiap tiang dan dinding yang ada di kuil tersebut. Wat Mai Suwannapuhumaham dibangun pada 1821 dan merupakan kuil paling besar dan disebut-sebut sebagai kuil dengan dekorasi paling indah.

Night Market
Sore hari, kami mulai menjelajahi night market di Ja;an Sisavangvong. Ini adalah surga belanja buat wisatawan. Aneka kerajinan khas Laos, kain-kain tenun, syal, hiasan, mata (bandul kalung) cantik dan unik dengan ukuran-ukuran mini sampai besar, arak, magnet, semua ada, lengkap! Harganya sangat tergantung kepandaian tawar-menawar. Jadi jangan ragu mengeluarkan keahlian bersilat harga.

Night Market / Foto: Sharon Ang from Pixabay

Satu lagi yang membuat penasaran adalah gosip tentang satu gang kecil yang menjual gelaran makanan kecil hingga makan besar. Nyatanya memang demikian. Sepanjang gang di sisi pasar malam itu penuh penjual makanan.

Banyak lapak yang memajang deretan wadah-wadah besar berisi lauk-pauk. Silakan ambil, nanti pemilik akan melihat dan menghitung. Harganya tergolong murah dibandingkan dengan jenis dan penjual makanan di warung, kios, rumah makan, mau pun kafe-kafe di Luang Prabang. Tapi sejujurnya, kami tidak terlalu cocok dengan cita rasa yang ditawarkan.

HARI KELIMA
(Wine Traditional Village-Pak Ou Cafe-Kuang Si Waterfall)

Hari keempat saat kami mengukur jalanan di pusat kota Luang prabang, kami memutuskan membeli paket wisata ke tiga objek wisata utama. Dua berlokasi di sepanjang aliran Sungai Mekong dan satu objek wisata di darat yang ditempuh dengan kendaraan setelah mendarat dari perjalanan menyusuri sungai.

Setelah keluar masuk beberapa biro perjalanan yang banyak tersebar di sepanjang jalan utama pusat kota, kami mendapat satu yang harganya cocok. Beda sedikit dengan biro-biro perjalanan lain dan berbeda jauh dengan harga yang ditawarkan langsung di kapal-kapal yang bersiaga di tepi Sungai Mekong.

Foto: Lintang

Kami sudah diberi panduan keberangkatan, titik temu dan kontak orang di lokasi. Akhirnya, kami naik ke atas perahu motor beratap. Di situ kami mengenal 3 anak muda dari Jepang (seusia anak-anak kami).

Dalam perjalanan kami asyik bertukar cerita, termasuk membandingkan harga. Dan mereka sembari tertawa-tawa menyesal, karena harganya setengah lebih mahal dari kami. Di situlah para ibu-ibu merasa puas (hahaha).

Wine Traditional Village
Perjalanan sangat menyenangkan – sembari menerawang, sesungguhnya jika disusun rapi, sungai-sungai di Indonesia bisa seperti ini. Tak lama kemudian, pemandu wisata memberi aba-aba bahwa kapal atau perahu akan mendarat di Wine Traditional Village.

Begitu turun dan menapaki sedikit anak tangga, kami langsung disambut ramah penduduk desa tersebut. Di bagian depan berjejer toples besar dan botol-botol arak khas Laos yang berisi aneka hewan berbisa, mulai dari kalajengking sampai ular kobra. Masyarakat Laos percaya, arak rendaman itu obat untuk memperkuat stamina.

Foto: Lintang

Widih, saya tidak berani mencoba. Salah satu teman saya dan anak-anak muda dari Jepang itu malah bersemangat mencicipi. Katanya sih rasanya biasa-biasa saja, ya seperti arak pada umumnya.

Kami terus berjalan masuk, dan melihat hampir semua rumah penduduk berfungsi sebagai tempat berjualan suvenir dan menenun kain-kain sembari memajang yang sudah jadi untuk ditawarkan pada turis.

Di situlah tiga ibu-ibu ini terkaget-kaget karena ternyata harga selembar syal di desa ini jauh lebih murah (setengah harga) dibandingkan dengan di night market di pusat kota Luang Prabang. Yah, karena tergiur, akhirnya saya beli lagi. Pulang-pulang bawa 12 syal, separuh lebih titipan teman-teman.

Pak Ou Cave
Ini sebenarnya destinasi utama yang dituju. Kuil unik yang terkenal karena terletak di gua di dinding tebing tepi sungai.

Di dalam gua terdapat ribuan patung Budha. Wisatawan bisa menelusuri kuil di dalam gua dan kemudian melanjutkan perjalanan ke bagian atas tebing. Untuk mencapai kuil di bagian atas, sudah ada anak tangga. Meski demikian, sungguh butuh perjuangan dan tenaga untuk mencapai tempat tujuan. Tapi pemandangan dari atas tebing sangat indah, lengkap dengan aliran Sungai Mekong. Pemandangan dari celah-celah gua juga menakjubkan.

Kuang Si Waterfall
Kami terpesona memandangi Kuang Si Waterfall. Air terjun ini lebar berundak dan jika ditelusuri ke atas ada kolam-kolam yang jadi tempat bermain wisatawan.

Foto: Sharon Ang from Pixabay

Hari itu udara sejuk karena hujan gerimis. Cuaca tidak menghalangi kami untuk berjalan masuk ke taman hutan. Jalanan sudah beraspal hingga sampai ke bagian dasar air terjun. Ada jembatan kayu cantik dan semacam teras terbuka dari kayu untuk menikmati pemandangan. Air bergemuruh meluncur dari ketinggian melewati undakan-undakan batu alami.

Kami berdiam diri menikmati suasana, cipratan air, udara sejuk, bau tanah basah, dan hijau pepohonan. Berjalan lebih ke atas ada kolam-kolam yang jadi tempat bermain dan berendam wisatawan. Tapi karena keterbatasan waktu, kami tak menyusuri sampai puncak, meski ingin.

HARI KEENAM
(Mount Phousi)

Hari keenam, kami kembali mengukur jalanan dan gang-gang di Luang Prabang. Menikmati kuil-kuil kecil tersembunyi dan juga warung dan kafe-kafe cantik yang tenang. Tapi tujuan utama saat itu adalah mendatangi Mount Phaosi

Foto: Lintang

Kami terus berjalan dan sesekali bertanya. Akhirnya sekitar pukul 15.00, kami menemukan jalan setapak yang setelah dikonfirmasi merupakan salah satu jalan menuju puncak Phousi.

Jam di tangan menunjukkan waktu yang tepat untuk mulai mendaki. Maka, kami pun mulai menyusuri, melewati perkampungan dan melihat bagaimana biksu-biksu kecil tengah menimba air.

Tak lama kemudian, jalanan mendaki mulai beranak tangga. Konon ada 300 lebih anak tangga (saya lupa menghitung hehe). Sambil terengah-engah, akhirnya sampai di sebuah kuil dengan semacam teras yang menjadi tempat beristirahat sekaligus menikmati pemandangan.

Foto: Lintang

Konon, kuil ini dibangun abad 18 dan menjadi salah satu pusat spiritual di Luang Prabang. Phousi sendiri berarti Bukit Suci. Itu sebabnya, jika berkunjung ke Mount Phousi disarankan mengenakan pakaian yang sopan.

Di dekat kuil ada satu lokasi yang menawarkan pemandangan luar biasa. Dari ketinggian, aliran Sungai Mekong yang berwarna coklat terlihat indah berkelok-kelok, berpadu dengan hijaunya pepohonan. Lebih ke atas lagi, ada spot foto berupa batu yang bisa didaki. Dari atas batu itu, hijau alam membentang mengagumkan.

Setelah berfoto dan menikmati matahari tenggelam, kami memutuskan untuk turun, kembali ke penginapan. Tidak disangka tidak diduga, jalan turun yang kami tempuh berakhir di night market dekat istana. Berdasarkan informasi, jalan menuju Mount Phousi memang ada dua, satu terletak di tepi jalan utama dan kedua dari sisi night market ini. Jadi, tanpa sengaja kami sudah lengkap melewati dua rute tersebut.

Royal Palace dan atap night market dari ketinggian jalan setapak Mount Phousi / Foto: Lintang

Karena sudah sampai di areal night market, jadilah malam itu kami memutuskan berleha-leha terlebih dauhulu di sebuah kafe yang ada di sisi night market. Menikmati secangkir kopi dan sepotong roti, sembari melihat lalu lalang orang di pasar malam.

HARI KETUJUH

Akhirnya, perjalanan santai kami di Laos – khususnya Luang Prabang berakhir. Sebelum melakukan penerbangan kembali ke Indonesia, pagi-pagi kami berjalan kaki di sekitar hotel, duduk santai memandangi Sungai Mekong dan akhirnya mampir ke warung makan pinggir jalan (mirip warung kopi) yang terlihat ramai.

Memesan teh dan kopi, dan lagi-lagi memesan mi khas Laos. Kami benar-benar menikmati suasana di hari terakhir, sebelum kembali ke penginapan, bersiap menanti taksi yang sudah dipesan sehari sebelumnya untuk mengantar ke bandara.

Mengenang kembali saat-saat itu, teman saya bilang, Laos, khususnya Luang Prabang adalah perjalanan paling menyenangkan. Benar-benar santai, menikmati setiap momen di kota tua yang tenang itu, termasuk bertemu teman-teman muda dari Jepang. Pertemuan itu berlanjut saat kami melakukan perjalanan ke Jepang.

TIPS

1. Di Luang Prabang, harga makanan tergolong mahal. Mi khas Laos di warung-warung pinggir jalan harganya bisa Rp50 ribu. Harga makanan di kafe-kafe tidak berbeda dengan di Jakarta. Harga makanan yang terjangkau ada di night market, digelar dalam deretan wadah-wadah. Namun, sejujurnya, kami bertiga tidak cocok dengan cita-rasa tumpukan aneka makanan yang terlihat menggiurkan itu.

2. Jika mendatangi Wine village, tahan nafsu belanja kain dan syal tenun khas Laos. Harga di Wine Village bisa separuh lebih murah dibandingkan dengan di night market.

3. Saran berdasarkan pengalaman, untuk objek wisata di pusat kota seperti kuil-kuil utama dan Mount Paosi, sebaiknya dijelajahi sendiri. Pusat kotanya tidak besar. Empat hari di sana kami jadi tahu karena ternyata kerap mengitari tempat yang sama.

5. Paket wisata bisa dipilih untuk objek-objek wisata agak keluar kota atau yang lokasinya perlu penyusuran dengan kapal/perahu di sepanjang aliran Sungai Mekong.

6. Tutuk moda transportasi darat yang paling umum untuk jarak dekat. Pandai-pandailah menawar. Sebagai patokan, jangan sungkan mencari informasi di tempat penginapan.

7. Jangan lupa membawa minum saat mendaki Mount Phousi.

8. Kenakan pakaian yang sopan ketika mendatangi istana, kuil, dan Mount Phousi.

Share:

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn